Sirup obat batuk mengandung racun, 200-an anak Indonesia tewas gagal ginjal
Tahun lalu, terjadi serangkaian kasus sirup obat batuk beracun di seluruh dunia yang mengakibatkan banyak kematian pada anak kecil. Di antaranya Indonesia kehilangan lebih 200 anak dan seratus lebih anak mengalami gangguan kesehatan, yang bahkan masih ada yang berbaring dan tidak bisa bergerak. Meskipun sebagian eksekutif perusahaan farmasi telah dijatuhi hukuman, namun kompensasi yang diterima keluarga korban sangatlah kecil.
122 anak jalani pengobatan, keluarga korban berupaya minta ganti rugi
Sheena yang berusia lima tahun sedang berbaring di tempat tidur, sambil melotot dan tidak bisa bergerak. Ibunya menarik perhatian dengan mainan di depannya, berharap dapat menstimulasi putrinya untuk kembali normal. Sheena menderita flu September tahun lalu, ibunya membawanya ke dokter, tak disangka malah menjadi penyakit serius.
Sirup obat batuk mengandung racun, timbulkan kerusakan ginjal dan otak
Pasalnya, sirup obat batuk yang diresepkan dokter mengandung zat beracun konsentrasi tinggi yang dapat menyebabkan kerusakan akut pada ginjal dan otak.
Sirup obat batuk beracun tewaskan 200-an anak, 122 anak jalani perawatan
Tahun lalu, terjadi insiden fatal terkait sirup obat batuk beracun di Indonesia. Lebih dari 200 anak tewas akibat gagal ginjal akut, 122 lainnya keracunan. Walau sudah mendapat perawatan darurat, 6 orang masih mengalami gejala susulan serius. Melihat anaknya terbaring menjalani trakeostomi dengan potensi cacat seumur hidup, sang ibu merasa pilu. Keluarga korban yang mengajukan gugatan baru menemukan bahwa sirup obat batuk yang diproduksi oleh setidaknya tiga perusahaan farmasi di Indonesia mengandung Etilena Glikol yang digunakan dalam industri zat pelarut dan antibeku, merupakan zat kimia beracun yang berakibat fatal bahkan dalam jumlah kecil, namun konsentrasi racun dalam sirup mencapai 96%-99%.
Sebagian oknum telah divonis, kompensasi dari pemerintah tidak mencukupi
Saat ini, 6 oknum dari satu pabrik farmasi dan dua pemasok bahan baku yang terlibat kasus telah divonis 2-10 tahun penjara. Namun, kompensasi yang diberikan pemerintah hanya beberapa ribu Dollar Amerika. Saat ini pihak keluarga berupaya mencari jalan untuk menaikkan jumlah kompensasi demi menyeimbangkan beban perawatan mereka.
