Digigit Caplak, pria berusia 70-an tahun terserang SFTS
發布時間:
更新時間:

Kali pertama di Taiwan ditemukan kasus demam kronis dengan sindrom trombositopenia (SFTS) akibat digigit oleh kutu caplak. Pria berusia 70-an tahun yang tinggal di kawasan utara Taiwan, tidak bepergian ke luar negeri, namun kerap melakukan aktivitas pegunungan. Pada akhir bulan lalu, ia terus menderita demam panas, muntah-muntah, terkadang timbul ruam, tidak sadarkan diri, dan setelah diperiksa di RS, baru diketahui positif terserang virus SFTS.
Pendaki gunung dan pekebun rentan diserang kutu caplak
Pihak CDC menjelaskan penyakit SFTS tertular oleh virus dari kutu caplak. Setiap April hingga Oktober adalah masa aktif kutu caplak. Jika digigit caplak yang membawa virus SFTS, masa inkubasi mencapai dua pekan, akan timbul gejala demam panas, mual, tidak nafsu makan, penurunan trombosit dalam darah, kulit merah bengkak, timbul ruam atau bercak pada kulit. Persentase kematian mencapai 5-15%, di mana pendaki gunung dan pekebun adalah kelompok yang rentan terserang.
Wakil Dosen Jurusan Sanitasi Umum NTU Wang Xi-jie mengatakan, “(Jika digigit) Kita sebaiknya menggunakan pinset, menjepit bagian depan mulut kutu, dan mencabutnya secara perlahan dari kulit.”
Pakar mengingatkan, jika digigit caplak, jangan langsung mencabut dengan tangan, melainkan pinset, agar capit mulut kutu tidak tertinggal di kulit dan memperparah kondisi.
Editor: Tony Thamsir
