Pasang tenda di atap asrama pabrik, picu sengketa genangan air usai hujan
Tersiar berita ada PMA di Distrik Luzhu Taoyuan yang tidak menggunakan asrama yang disediakan pabrik, malah memasang tenda di atap gedung asrama dengan niat untuk melakukan karantina mandiri satu ruang satu orang. Tanpa diduga, hujan yang turun menggenangi barang keperluan sehari-hari PMA, sehingga memicu sengketa. Pihak perusahaan menegaskan tidak ada pemaksaaan, hal tersebut karena PMA khawatir interaksi antar sesama meningkatkan risiko penularan, dan diajukan sendiri oleh PMA.
PMA ajukan usul karantina di atap gedung hindari interaksi
Dari 42 PMA di pabrik manufaktur proses die casting di Luzhu, 25 positif, 2 telah menyelesaikan karantina. Pemilik pabrik menegaskan untuk menerapkan sistem pemisahaan ruang. Awalnya hanya 2 yang positif, bagi yang sempat berinteraksi hanya perlu menjalani karantina mandiri dalam asrama, tapi 3 hari kemudian kemudian kembali ada kasus positif melalui tes rapid. Khawatir bahwa melakukan karantina mandiri dalam asrama mudah tertular, PMA mengusulkan untuk menggunakan ruang kosong di atap gedung. pihak pabrik pun membeli kebutuhan tenda dan logistik, PMA tidak perlu membayar.
Kepala Bidang Urusan Pekerja Migran Depnaker Taoyuan Chen Chiu-mei menhgatakan, “Usai penataan ulang asrama di bawah bimbingan Depnaker, kini mereka telah kembali ke asrama. Selain itu mewajibkan pabrik melakukan desinfeksi asrama, dan pemisahan penggunaan sarana kamar mandi.”
Sebagian PMA telah kembali tinggal di asrama
Depnaker Taoyuan menjelaskan usai mengikuti bimbingan konsultasi, 6 PMA telah kembali tinggal dalam asrama. Kini masih ada 31 PMA yang menetap di atap gedung dan tidak berkeinganan kembali ke asrama. Pihak Depnaker juga akan meminta petugas berikan konsultasi individual. Selain itu juga meminta majikan dan agensi dapat membantu menyarankan PMA dapat kembali hidup normal, karena tinggal di atap gedung tidak sesuai dengan ketentuan program pelayanan kehidupan PMA.
