Supir bus sekolah perkosa setidaknya 9 orang, 5 orang terinfeksi HIV
Akhir tahun lalu, seorang sopir bus sekolah yang terinfeksi HIV diduga telah melakukan kekerasan seksual terhadap sedikitnya sembilan gadis dengan kedok agama. Lima di antara korban positif terinfeksi. Saat kejadian, ada enam korban yang masih belum menginjak usia dewasa. Tersangka didakwa atas 32 tuduhan, termasuk melakukan kekerasan seksual secara paksa yang mengakibatkan luka serius.
Seorang supir bus sekolah di Taiwan tengah yang mengidap HIV, diketahui memperkosa sejumlah gadis dengan kedok agama hingga menularkan penyakit. Kasus terungkap Desember lalu saat Dinas Kesehatan melacak riwayat pasien positif HIV, dan menemukan lingkaran pergaulan yang tumpang tindih dengan kasus dua tahun lalu. Kedua korban pernah berkontak dengan supir bus tersebut dan mengalami kekerasan seksual. Kasus ini langsung dilaporkan ke kejaksaan. Hingga kini, minimal 9 orang menjadi korban, termasuk enam anak di bawah umur saat kejadian, dan lima di antaranya tertular penyakit. Tersangka kini telah ditahan.
Organisasi guru menilai keterbatasan informasi sekolah menjadi celah pengawasan
Selain mengimbau korban untuk berani memeriksakan diri dan berobat, berbagai pihak juga mendesak evaluasi atas celah pencegahan dan keamanan sekolah. Sesuai hukum, staf bus sekolah tidak boleh memiliki catatan kriminalitas seksual sebelum direkrut. Namun, sopir ini tetap bisa lolos ke lingkungan sekolah meski memiliki catatan kriminal pada masa lalu. Organisasi guru mengungkapkan, sekolah yang mengontrak staf dari perusahaan otobus hanya bisa meminta Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKSC) sesuai kontrak. Akibatnya, jika catatan kriminal pelaku belum masuk ke ranah hukum pidana berat, atau jika pelaku berdamai secara pribadi dengan korban terdahulu, maka catatan kriminal tersebut tidak akan terlacak.
==Hsu Sen-chieh // Sekjen Asosiasi Lourdes Taiwan==
(Kita) tidak perlu merasa cemas saat berinteraksi dengan pengidap HIV
Saat ini ada sekitar 40.000
Hingga hampir 50.000 yang hidup berdampingan dengan kita
Jadi kita tidak perlu menghakimi atau berburu penyihir
Ormas: Tekanan psikologis korban besar, imbau masyarakat jangan menghakimi
Organisasi kesejahteraan sosial menekankan, tekanan psikologis yang dipikul para korban sangatlah besar. Masyarakat diimbau memperluas edukasi seputar HIV guna mengikis rasa takut dan tidak main hakim sendiri. Selain itu, siapapun yang pernah melakukan perilaku berisiko harus memeriksakan diri agar gejala dapat dideteksi sedini mungkin.
