Indonesia berlakukan larangan medsos bagi anak di bawah usia 16 tahun
Pemberlakuan larangan medsos bagi anak dan remaja di bawah usia 16 tahun disambut hangat oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun ada sebagian yang menyatakan kesangsian terhadap kebijakan ini. Sementara itu, ormas dan pakar mengimbau pemerintah untuk mengambil langkah persuasif dengan melibatkan opini seluruh lapisan masyarakat.
Orang tua: Dukung kebijakan, siswa: Tugas sekolah sulit dirampungkan tanpa medsos
Saat menatap layar ponsel dengan serius, seluruh konsentrasi Annisa teralih sepenuhnya ke dalam dunia maya. Indonesia memberlakukan larangan kepemilikan akun medsos bagi anak dan remaja di bawah usia 16 tahun guna membatasi tingkat frekuensi ekspos pada anak dengan mengadopsi kebijakan Australia tahun lalu. Mayoritas warga Indonesia menyuarakan dukungan mereka.
Guru gunakan medsos sebagai sarana penunjang, siswa alami kendala mengumpulkan informasi
Kendati demikian, ada sebagian masyarakat yang menanggapi kebijakan tersebut dengan kesangsian. Misalnya, Kinarnya, seorang siswi usia 15 tahun yang menyatakan, ada guru yang menggunakan medsos sebagai sarana penunjang pengajaran, bahkan ada sebagian tugas di sekolah yang perlu dikerjakan lewat ketersediaan informasi di medsos.
Khawatir kebijakan picu efek negatif, ormas imbau pemerintah tampung opini berbeda
Di sisi lain, organisasi masyarakat pun menyuarakan opini mereka. Nenden, direktur eksekutif ormas SAFEnet (Ormas Pembela Kebebasan Berekspresi Asia Tenggara) menyikapi larangan ini sebagai solusi kilat oleh pemerintah untuk menekan masalah adiksi digital, seolah-olah merupakan sanksi terhadap medsos. Ia mengimbau, selain larangan, pihak berwenang sebaiknya juga menyisihkan lowongan untuk menampung suara berbeda dari seluruh lapisan masyarakat dan melibatkan pakar terkait guna menimbang dampak dan konsekuensi kebijakan.
Pakar: Platform medsos miliki kelebihan+kekurangan, pemerintah diimbau lebih cermat
Perintis LSM Sejiwa (Semai Jiwa Amini), Diena Haryana menyampaikan, studi menunjukkan bahwa penggunaan medsos dapat memengaruhi kondisi kesehatan mental yang memicu keresahan dan depresi pada anak. Namun, medsos juga merupakan platform yang menawarkan berbagai faedah dan membuka wawasan baru dalam aspek informasi dan pengetahuan. Ia mengimbau agar pemerintah mengambil pendekatan persuasif untuk memberantas masalah adiksi digital agar tidak terkesan bahwa hak anak terenggut total. Biar bagaimana pun, anak perlu mengeksplorasi teknologi digital pada usia tertentu di bawah bimbingan tepat.
