Perusahaan penghasil limbah dijatuhi sanksi, kualitas udara sulit diperbaiki
Tingkat kualitas udara di Ibu Kota Jakarta, Indonesia, terus memburuk. Otoritas setempat selain telah menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan yang memproduksi polusi udara, juga memberlakukan sistem bekerja di rumah terhadap para pegawai negeri, pos pemeriksaan emisi knalpot kendaraan, namun masalah polusi udara tidak ada tanda-tanda perbaikan, yang telah turut memicu emosi masyarakat setempat.
Masalah polusi udara di Jakarta memburuk, kesehatan warga terimbas
Pria berusia 35 tahun yang berprofesi sebagai dosen di sebuah universitas ini menderita penyakit pernafasan akibat polusi udara dan tetap menggunakan masker saat bekerja di rumah. Putra wanita lainnya yang berusia 6 tahun menderita batuk berkepanjangan akibat polusi udara, yang memengaruhi kehidupan sehari-harinya.
==Orang tua penderita anak berusia 6 di Jakarta==
Ia adalah seorang anak yang aktif
Melihat dia tidak dapat berbuat apa-apa
Hanya batuk dan tidur sepanjang hari
Reaksi pertama tentu saja sangat sedih
Tapi setelah itu, kesedihan menjadi amarah
Setelah mengetahui ini bukanlah kesalahan saya
Infeksi saluran pernapasan, pneumonia sejak Maret-Juli naik 20%-30%
Pakar penyakit pernapasan di Jakarta mengatakan kepada reporter AFP (Agence France-Presse) bahwa kasus infeksi saluran pernapasan dan pneumonia meningkat 20%-30% sejak Maret-Juli tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Data dari Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) Finlandia menunjukkan, emisi limbah dari pembangkit listrik tenaga batu bara di Indonesia menyebabkan 10.500 fatalitas dan biaya perawatan kesehatan sebesar US$ 7,4 miliar pada 2022.
Perusahaan penghasil polusi udara didenda, kualitas udara sulit diperbaiki
Seiring meningkatnya ketidakpuasan dan kritik masyarakat, pihak berwenang Indonesia akhirnya mengakui bahwa emisi limbah pabrik berkaitan dengan kabut asap beracun yang menyelimuti ibu kota. Dalam beberapa minggu terakhir, mereka telah mendenda 13 perusahaan dan memulai kebijakan terhadap pegawai negeri untuk bekerja dari rumah dan bahkan menguji emisi knalpot kendaraan, namun tetap tak mampu memperbaiki kualitas udara. Selama beberapa hari bulan lalu, kualitas udara di kota besar berpenduduk 30 juta jiwa ini merupakan yang terburuk di dunia.
