Dianggap memiliki efek medis, trenggiling hadapi krisis kepunahan
發布時間:
更新時間:

Petugas pusat rehabilitasi fauna di Vietnam ini tengah merawat seekor trenggiling yang terluka. Dalam ramuan obat tradisional, sisik trenggiling dipercaya mampu mengobati rematik melalui efek peningkatan sirkulasi darah, yang mengakibatkan populasi trenggiling di Tiongkok menurun 90% sejak tahun 1970 sehingga kerap diselundupkan dari negara Asia Tenggara. Akhir-akhir ini Hong Kong, Indonesia dan Malaysia sempat menyita sisik dan trenggiling yang diburu secara ilegal dalam jumlah besar.
Tiongkok meningkatkan level konservasi trenggiling
Kondisi ini kini mengalami perubahan. Beberapa waktu lalu, otoritas Tiongkok menaikkan konservasi trenggiling ke tingkat tertinggi. Dalam edisi “Kamus Obat Tiongkok” terbaru tahun 2020 dinyatakan bahwa segala sumber daya yang menipis, komoditas yang berkurang, hal yang memiliki masalah etika dan keselamatan, varietas yang tidak memiliki penelitian kuat tidak akan dituangkan lagi dalam kamus obat terbaru. Oleh sebab itu, trenggiling juga akan dihapuskan.
Kotoran kelelawar “Yemingsha” juga dihapus dari cakupan kamus
Di samping itu, resep pil Huanglian Yanggan Wan mengandung “Yemingsha”, yaitu kotoran kelelawar, sehingga juga telah ditarik dari kamus. Yang patut diperhatikan, sumber COVID-19 disinyalir berasal dari hewan liar, termasuk kelelawar dan trenggiling. Tiongkok telah melarang konsumsi hewan liar, namun masih mengizinkan hewan liar untuk keperluan penelitian dan obat tradisional. Para pakar merasa larangan penggunaan trenggiling sebagai obat tradisional bermanfaat dalam upaya konservasi serta dapat mencegah penyebaran virus.
Bahan obat tradisional kerap mencakup sejumlah hewan langka
Setidaknya ada sembilan hewan liar termasuk badak, harimau dan kuda laut yang menghadapi krisis punah akibat sering digunakan sebagai bahan obat tradisional.
Editor: Jonathan
