Tim peneliti NTUH: Diet penurunan berat badan mampu menekan risiko kanker
Gunakan suntik kurus, risiko kanker pada pasien bergejala obesitas turun 41%
Apakah hormon agonis reseptor GLP-1 pada alat suntik kurus yang menjadi tren untuk menurunkan berat badan dewasa ini juga berkhasiat menekan risiko kanker? Peneliti mencakup tim dari National Taiwan University Hospital (NTUH), menggunakan data catatan medis elektronik skala besar di Amerika Serikat untuk menyaring orang dewasa bergejala obesitas yang tidak menyandang penyakit terkait obesitas dan membagi mereka ke dalam dua kelompok. Grup pertama menerima perawatan diet pola makan atau olahraga, sementara grup kedua menjalani pengobatan suntik kurus. Hasil penelitian menunjukkan, risiko timbulnya kanker yang berkaitan dengan obesitas pada kelompok yang menggunakan suntik kurus lebih rendah 41%.
==Hsu Heng-cheng // Dokter Departemen Obstetri dan Ginekologi, NTUH==
Walau hanya sekadar pola diet atau olahraga
Yang ditetapkan dengan mengurangi jumlah makanan
Hal ini pun berkaitan erat dengan
Skala penurunan risiko kanker
Diet turunkan risiko kanker, namun efek antikanker pada suktik kurus belum teruji
Kendati demikian, tim peneliti hanya dapat menarik kesimpulan awal bahwa mengurangi obesitas selaku faktor berisiko bermanfaat dalam mencegah kanker, dan belum dapat mengonfirmasi apakah suntik kurus memiliki mekanisme antikanker, dan juga tidak berarti bahwa alat ini memicu sindrom adaptasi umum (GAS) secara klinis.
Kasus gugatan massal efek samping suntik kurus sempat merebak di luar negeri
Ribuan pengguna suntik kurus di luar negeri sempat mengajukan gugatan massal akibat efek samping parah pasca perawatan. Badan Pengawas Obat dan Produk Kesehatan (MHRA) Inggris telah mengeluarkan peringatan keselamatan terkait risiko pankreatitis akut yang ditimbulkan alat suntik kurus. Administrasi Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Taiwan juga menegaskan, suntik kurus merupakan obat yang diresep dokter lewat serangkaian evaluasi medis demi menjamin keselamatan pasien.
