Pawai "No Kings" digelar serentak di 50 negara bagian, dihadiri 9 juta warga AS
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada tanggal 30 kembali melontarkan ancaman bahwa jika kesepakatan tidak segera dicapai, pihaknya akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur energi vital Iran. Namun, kebijakan Trump menuai ketidakpuasan. Pada tanggal 28, demonstrasi besar-besaran bertajuk “No Kings” pecah di seluruh penjuru Amerika Serikat, mencakup 50 negara bagian, dengan jumlah peserta melampaui sembilan juta orang.
Pawai unjuk rasa anti-Trump digelar sebanyak 3.000 kali, diikuti 9 juta demonstran
Demonstran memadati jalanan dari persimpangan Times Square hingga Balai Kota Los Angeles. Pawai "No Kings" merupakan ajang unjuk rasa terbesar melawan Trump sejak menjabat presiden untuk kedua kalinya tahun 2025. Mengangkat spanduk bertuliskan "No Kings" dan "Antifa", demonstran mengecam Trump meyalahgunakan perintah eksekutif untuk memimpin AS, memanipulasi Departemen Kehakiman guna menekan perbedaan pendapat dan mengancam konstitusionalisme serta demokrasi.
==Partisipan demonstrasi di New York==
Saya sudah muak dengan semua ini
Saya tidak mengakui semua kebijakan yang dibuat oleh presiden saat ini
Terutama dalam ajang perang kali ini, maka kami datang ke sini untuk unjuk rasa
Kasus deportasi imigran jadi fokus utama pawai unjuk rasa anti-Trump di Minnesota
Salah satu fokus pawai di Minnesota adalah kasus dua warga sipil yang tewas saat petugas federal melakukan deportasi paksa terhadap imigran. Musisi rock Bruce Springsteen tiba di St. Paul, kota terbesar kedua di Minnesota, untuk membawakan lagu rakyat yang ia tulis bagi para korban. Turut bergabung dalam pawai, grup veteran mengkritik Trump karena melenceng dari komitmen perdamaian yang ia janjikan saat kampanye pemilu dan memicu perang dengan Iran.
Protes anti-Trump merambah ke luar negeri, 20.000 warga Roma turun ke jalan
Sentimen anti-Trump tidak hanya melanda AS, namun juga menyebar ke luar negeri. Sekitar 20.000 warga Roma turun ke jalan sebagai bentuk protes.
Iran gempur kilang minyak Israel dan menghancurkan sarana PLTA Kuwait
Di sela aksi unjuk rasa, Presiden Trump kembali melayangkan ancaman tanggal 30. Ia menyampaikan, jika kesepakatan gencatan senjata tidak segera tercapai, ia akan melancarkan serangan dan menggempur habis-habisan sarana infrastruktur energi Iran. Di lain pihak, sebuah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) utama di Kuwait dan kilang minyak Israel diserang Iran, sementara pejabat Iran mengonfirmasi, komandan Angkatan Laut Garda Revolusi yang telah lama memimpin blokade Selat Hormuz tewas dalam serangan udara Israel.
