Selang 3 tahun, Taiwan kembali mencatat virus SFTS, tingkat kematian capai 30%
Selang tiga tahun, Taiwan kembali mencatat satu kasus Sindrom SFTS yang ditularkan melalui gigitan kutu tanduk panjang Asia. Sampel kutu di sekitar tempat tinggal pasien tidak terdeteksi mengandung virus. Saat ini belum ada obat antivirus untuk menangkal penyakit ini, sehingga tingkat kematiannya mencapai 30%, warga diimbau waspada.
16 kutu ditemukan sekitar rumah pasien, hasil tes tidak terdeteksi infeksi penyakit
Tanggal 17, Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) melaporkan satu kasus Sindrom Demam Berat dengan Trombositopenia (SFTS) pada pria berusia 70-an dari wilayah utara yang tidak memiliki catatan perjalanan ke luar negeri. Ia menderita demam dengan indeks trombosit rendah dan terdiagnosis positif gejala SFTS. Saat ini, ia telah pulih dan meninggalkan rumah sakit. Petugas menemukan 16 ekor kutu dari sekitar tempat tinggalnya, namun tidak menemukan adanya virus, sehingga sumber penularan hingga kini masih belum jelas. Penyakit SFTS terutama ditularkan melalui kutu tanduk panjang Asia (Haemaphysalis longicornis) dengan gejala demam, mual, dan bahkan kegagalan multi-organ pada kasus parah. Tingkat fatlitasnya mencapai 30%. Warga diingatkan untuk melakukan upaya preventif saat beraktivitas di luar ruangan, seperti mengoleskan cairan pengusir nyamuk dan segera berobat bila muncul gejala mencurigakan.
