Malaysia kekurangan pekerja, berimbas pada produksi kelapa sawit
Malaysia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar kedua. Kebun sawit terhampar sepanjang mata memandang. Namun karena kini kekurangan PMI, hasil panen dan produksinya tidak setinggi yang lalu.
Pemilik kebun sawit berkata, "dulu kami panen dua kali setiap bulan. Kini menjadi 21 hari atau sebulan sekali, berkurang 30-40%.”
PMI kebun sawit berkata, “masalahnya adalah pekerjaan ini sangat menguras tenaga. Karena saya adalah satu-satunya pekerja, tidak ada yang lainnya, hanya saya.”
Malaysia tangguhkan impor PMA, kekurangan 1,2 juta pekerja
Setiap buah sawit beratnya mencapai 25 kg dan sangat memerlukan tenaga untuk memanennya. Situasi pandemi dua tahun lalu mengakibatkan terhentinya penyaluran pekerja migran. Kini hanya ada seorang pekerja di kebun seluas ini, walau jam kerjanya ditambah dari pagi hingga malam pun tetap tak cukup. Panen setiap bulan berkurang 50 ton dibandingkan sebelumnya. Dengan lonjakan permintaan setelah pandemi, kekurangan tenaga kerja Malaysia semakin memburuk setiap hari. Statistik pemerintah menunjukkan bahwa setidaknya industri manufaktur, konstruksi dan pertanian, dan teknologi mengalami kekurangan 1,2 juta pekerja. Meskipun pihak berwenang mencabut larangan PMI dan Bangladesh pada bulan Februari, negosiasi hak-hak buruh dan birokrasi masih membuat pengusaha kalang-kabut. Pakar ekonomi juga memperingatkan jika hal ini terus berlanjut, peluang ekspor akan hilang akibat terputusnya rantai pasokan global dan kenaikan harga komoditas.
Analisis perusahaan konsultan menjelaskan, “asosiasi minyak kelapa sawit Malaysia pernah menyampaikan penghasilan pengusaha mungkin akan berkurang 5-10%, ditambah lagi dengan terputusnya rantai pasokan sehingga tidak mampu memenuhi permintaan global.”
Pakar: Rantai pasokan global dan peluang usaha terputus
Pakar ekonomi juga memeringatkan, jika hal ini terus berlanjut, peluang ekspor akan hilang akibat terputusnya rantai pasokan global dan kenaikan harga komoditas.
