Indonesia atur tata kelola komoditas SDA, mencakup minyak sawit dan paduan besi
Dalam rangka merevitalisasi perekonomian negara, tanggal 20 Indonesia mengumumkan, semua ekspor sumber daya alam di masa mendatang akan dikelola secara terpadu oleh BUMN. Kebijakan baru ini menimbulkan disrupsi pada rantai pasokan global dan pasar komoditas, memicu kepanikan di kalangan investor asing dan mengakibatkan bursa saham Jakarta anjlok. Kurs rupiah anjlok hingga mencapai titik terendah sepanjang masa.
Aturan baru ekspor komoditas Indonesia mencakup minyak sawit dan batu bara
Pada tanggal 20, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan penerapan kebijakan pengendalian ekspor komoditas dalam rapat paripurna di Gedung DPR Jakarta. Kebijakan baru ini menetapkan, setelah masa transisi tiga bulan, sejumlah komoditas mencakup minyak sawit, batu bara dan paduan besi akan dikelola secara terpadu oleh BUMN di bawah naungan "Danantara" selaku badan pengelola investasi. Pemerintah juga akan menambahkan lebih banyak lagi komoditas ke dalam daftar setiap tiga bulan.
Kebijakan baru picu kekhawatiran pasar, bursa saham dan rupiah anjlok drastis
Kebijakan baru ini juga menetapkan, per 1 Juni, semua eksportir SDA (sumber daya alam) wajib menyimpan seluruh pendapatan ekspor di bank milik negara. Pemerintah berharap mandat ini dapat membuat devisa hasil ekspor terkonsentrasi di dalam negeri guna memperkuat cadangan devisa dan menstabilkan rupiah yang mengalami depresiasi seiring faktor eksternal seperti konflik di Timur Tengah dan apresiasi dollar AS, rupiah anjlok dan kurs banding dolar AS sebelum Bank Indonesia mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 50 bps (basis poin) bahkan sempat mencapai Rp17.748, mencatat rekor terendah sepanjang sejarah. Meskipun kebijakan baru ini memperkuat daya kendali pemerintah atas ekspor sumber daya alam, hal ini turut memicu kecemasan pasar. Indeks saham di Jakarta anjlok 7% dalam tiga hari terakhir dari tanggal 20-22. Lesunya pasar saham dan valuta asing ini sangat berdampak terhadap masyarakat umum.
Prabowo: Dulu komoditas SDA dijual murah, kerugian capai US$908 miliar
Prabowo menyatakan bahwa Indonesia mengalami kerugian hingga US$908 miliar selama 34 tahun terakhir, karena rendahnya harga ekspor sumber daya alamnya. Namun, kebijakan baru ini memicu kekhawatiran di kalangan investor, menyebabkan aliran modal keluar dari pasar modal dan memperkeruh variabel iklim perekonomian.
