Tari tradisional Janger Kolok di desa tunarungu Bali bawa pendapatan pariwisata
Warga di sebuah desa tunarungu di Bali menggalang hubungan antar komunitas tunarungu melalui tarian tradisional yang sekaligus menjadi wadah untuk menunjukkan ciri khas budaya mereka. Tak hanya sering diundang tampil di berbagai tempat, mereka juga menarik wisatawan dan mendatangkan pemasukan bagi daerah setempat.
Angka kelahiran desa tunarungu menurun, tarian tradisional masih terus diwariskan
Jumlah penyandang tunarungu di Desa Bengkala berangsur menurun dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah manula berkurang sementara angka kelahiran menurun. Pada survei yang diadakan tahun 1995, di antara 2.185 penduduk terdapat 47 orang penyandang tunarungu, yang mencakup 2%. Sekarang, di antara 2.876 penduduk terdapat 40 orang penyandang tunarungu, yang mencakup 1,4%. Meskipun demikian, ada kesenian tradisional khas penyandang tunarungu yang masih terus diwariskan, yakni Tari Janger Kolok.
==I Made Pinda//Penduduk dusun tunarungu==
Kami tidak bisa mendengar
Namun kami sangat menikmati menari mengikuti irama
Penari tunarungu atasi keterbatasan dengan mendengar melalui “hati”
Untuk bersiap memulai penampilannya, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya merias dan berdandan sendiri. Mereka juga sangat berpengalaman.
==Ni Cening Sukasti//Penduduk dusun tunarungu==
Ia adalah ayah yang sudah melahirkan lima orang anak
Ini adalah anakku, anakku
Tari tunarungu ada sejak 1967, diundang tampil di berbagai acara kesenian
Tiga generasi penari tunarungu tinggal bersama, membuat generasi muda tidak hanya mengenal kebudayaan Bali, tapi juga menurunkan hubungan di dalam komunitas tunarungu dari generasi ke generasi melalui tarian. Penelitian lokal menunjukkan bahwa tarian tunarungu sudah ada sejak tahun 1967. Mereka juga pernah diundang untuk tampil di Australia, Pesta Kesenian Bali, dan berbagai tempat lainnya.
==Nyoman Sudarma//Penduduk dusun tunarungu==
Nama saya Sudarma
Nama bahasa isyarat saya adalah “telinga besar”
Menari tarian tradisional tunarungu ini
Bisa membuat kami merasa sangat bahagia
Ini poin pertama, poin keduanya adalah
Tarian bisa membuat turis asing tertarik pada kami
Bersedia untuk datang ke sini
Membuat kami mendapat penghasilan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari
Seperti untuk membeli beras untuk dimakan
Tarian tunarungu menampilkan kebudayaan dan membawa pendapatan pariwisata
Tarian tunarungu tidak hanya memungkinkan kebudayaan lokal untuk membuahkan hasil yang unik, tetapi yang lebih penting adalah bisa menunjukkan kemampuan diri, mendatangkan pendapatan, dan meningkatkan taraf hidup.
