Operasi pemberantasan kelompok separatis di Papua Barat tewaskan 15 orang
Gerakan separatis sering terjadi di Provinsi Papua Barat. Baru-baru ini terjadi bentrokan antara pemerintah dan kelompok bersenjata, yang menewaskan 15 warga sipil, mencakup perempuan dan anak-anak. Insiden ini memicu amarah warga yang melakukan aksi unjuk rasa pada hari Senin, dan kembali menyulut bentrokan sengit antara polisi dan warga.
Polisi-warga terlibat baku hantam, 5 polisi cedera, korban sipil belum diumumkan
Operasi militer pemerintah Indonesia di Provinsi Papua Barat bulan ini telah mengakibatkan 15 warga sipil tewas, beberapa di antaranya mencakup wanita dan anak-anak. Oleh sebab itu, sekitar 800 warga melakukan unjuk rasa tanggal 27 untuk memprotes kekejian dalam prosedur penegakan hukum. Polisi mengerahkan gas air mata dan meriam air, warga pun membalas dengan melemparkan batu, melukai sedikitnya lima aparat kepolisian, sementara jumlah korban sipil belum diumumkan.
Polisi-warga coba bernegosiasi, polisi klaim mereka diserang selama proses dialog
Menurut keterangan petugas, kedua pihak awalnya mencoba bernegosiasi, namun saat dialog berlangsung, petugas malah diserang.
Warga jadi korban dalam pertikaian antara kelompok separatis dan pemerintah
Papua dulunya merupakan kawasan kolonisasi Belanda dan baru menjadi bagian dari Indonesia melalui referendum tahun 1969. Namun, banyak suku adat setempat tidak mengakui pemerintah Jakarta dan berjuang untuk mencapai kemerdekaan, memicu konflik militer berkepanjangan dengan pemerintah Indonesia. Ormas HAM menyampaikan, warga lokal yang terimpit di antara kelompok separatis dan pemerintah kerap menjadi korban nahas.
