Ratusan tanker+kapal kargo terpaksa berlabuh di Teluk Persia, awak kapal tertekan
Iran dan Amerika Serikat secara bergilir memblokade Selat Hormuz, menyebabkan hanya segelintir kapal yang dapat melintas. Saat ini, sekitar dua puluh ribu pelaut dilaporkan terjebak dengan keterbatasan makanan dan air. Kondisi semakin memprihatinkan karena mereka kehilangan kontak dengan keluarga, memicu tekanan mental yang kian berat bagi para awak kapal.
Ratusan tanker+kapal kargo berlabuh di Teluk Persia pasca blokade Selat Hormuz
Selat Hormuz yang dulunya hiruk-pikuk kini telah menjadi zona terlarang bagi para pelaut. Statistik menunjukkan, dalam kondisi normal, kawasan ini biasanya dilalui oleh lebih dari 130 kapal niaga per hari, namun setelah konflik pecah, skala lalu lintas merosot hampir 40%. Ratusan tanker minyak dan kapal kargo terpaksa berlabuh di Teluk Persia.
Setiap pelayaran adalah pertaruhan, perusahaan asuransi berhak tolak kompensasi
Walau periode perjanjian gencatan senjata telah diperpanjang, situasi konflik belum mereda. Amerika Serikat terus memblokir pelabuhan Iran, Iran juga terus melakukan pemantauan agresif. Bagi perusahaan pelayaran, setiap pelayaran merupakan pertaruhan besar, karena perusahaan asuransi berhak menolak untuk membayar kompensasi tanpa izin niaga.
Lebih dari 20.000 awak kapal yang tertahan hadapi tantangan dalam bertahan hidup
Selain ancaman keselamatan, para awak kapal juga harus menghadapi tantangan dalam bertahan hidup di bawah kondisi kekurangan makanan, penjatahan air dan gangguan komunikasi.
==Manoj Kumar Yadav // Sekjen Forward Seamen’s Union India==
Sebelum gencatan senjata, awak kapal telah menghadapi masalah krisis pangan
Ada beberapa kru yang mulai menjatahkan air
Setiap pagi dibatasi selama 2 jam, setiap malam 2 jam
PBB serukan pembentukan jalur aman bagi kapal yang tertahan di Teluk Persia
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Maritim Internasional (IMO) telah berkali-kali menyerukan pembentukan jalur aman, namun sebagian besar kapal dagang masih menghadapi kesulitan untuk berlayar. Selama pertikaian AS-Iran belum terselesaikan, keluarga 20.000-an kru yang tertahan ini tak dapat berbuat apa-apa selain menunggu anggota keluarga mereka dilepaskan dari zona yang berkecamuk ini.
