Angka natalitas Taiwan terendah di dunia, populasi 2065 diprediksi berkurang 1/2
Penurunan angka kelahiran kini menjadi krisis keamanan nasional. Tahun lalu, angka kelahiran Taiwan hanya mencapai 0,695, terendah di dunia, yang berarti rata-rata setiap perempuan hanya melahirkan kurang dari 0,7 anak sepanjang hidupnya. Jika tren ini berlanjut, pada 2065, populasi Taiwan diperkirakan menyusut setengah hingga di bawah angka 12 juta jiwa.
Skala natalitas+pernikahan di Taiwan tahun lalu catat rekor terendah
Angka natalitas Taiwan mengenaskan hingga nyaris menimbulkan masalah keamanan nasional. Menurut data terbaru Kementerian Dalam Negeri (MOI), skala natalitas Taiwan tahun lalu hanya 0,695 orang, turun dari 0,885 orang tahun sebelumnya, menandai penurunan tercepat sejak pencatatan dimulai. Sementara itu, indikator utama angka kelahiran yang diwakili oleh angka pernikahan juga mencapai titik terendah baru sebanyak 100.000 pasangan.
==Nona Huang // Warga Kota Taipei==
Mungkin juga karena masalah uang
Jadi tidak ingin melahirkan anak
Mungkin tetap akan menikah, mungkin saja
==Bapak Chen // Ayah dari dua anak==
Contohnya saja kami, kami tidak berencana membeli rumah
Saat ini kami menyewa kamar, kalau hendak membeli rumah
Beban perekonomian akan bertambah berat
Populasi Taiwan tahun 2026 diprediksi berkurang 1/2 menjadi 12 juta orang
Angka kelahiran Taiwan anjlok jauh di bawah perkiraan. Pada bulan Agustus, Dewan Pembangunan Nasional (NDC) diperkirakan akan merilis proyeksi populasi terbaru Taiwan dengan mengadopsi mekanisme skala natalitas ultra-rendah. Berdasarkan angka kelahiran tahun lalu sebanyak 0,695, awalnya diperkirakan bahwa populasi Taiwan akan berkurang separuh pada 2070, namun berdasarkan kalkulasi baru, diralat menjadi anjlok 12 juta pada 2065, atau lima tahun lebih awal.
Taiwan diimbau adopsi sistem kohabitasi negara barat bagi yang ingin punya anak
Ormas menyarankan rancangan program jangka pendek dan jangka panjang untuk mengatasi hal ini. Misalnya, untuk jangka panjang, pemerintah dapat mengacu pada pengalaman negara barat guna merancang sistem kohabitasi lewat amandemen UU yang melindungi hak pasangan yang tidak memiliki ikatan pernikahan, sehingga menarik minat kalangan yang ingin memiliki anak, namun enggan membangun bahtera rumah tangga.
