Taman makam ekologis pertama di Malaysia, jadi alternatif baru bagi non-Muslim
Senin depan adalah Festival Chengbeng. Umat Muslim di Malaysia mengubur jasad almarhum sebagai ganti kremasi. Namun, dalam masyarakat multireligius, setiap kelompok etnis memiliki cara pemakaman berbeda. Kini, Malaysia meresmikan taman makam ekologis pertamanya, memberikan alternatif baru bagi kalangan non-Muslim setempat.
Malaysia didominasi populasi Muslim, almarhum dikubur dan tak boleh dikremasi
Islam menekankan proses pemakaman sederhana, cepat dan penguburan dalam tanah. Jasad Muslim yang meninggal harus dimakamkan dalam waktu 24 jam, dengan upacara yang sederhana dan tanpa formalitas berlebihan.
==Lee Lie-kuan // Komentator isu-isu terdini==
Sebenarnya, proses penguburan pada agama Islam
Pada dasarnya merupakan sebuah metode ramah lingkungan
Umat Muslim tidak pakai
Hampir tidak pernah memakai peti mati
(Jasad) dibungkus dengan kain
Sehingga menghemat ruang
Ukuran makamnya juga relatif kecil
Islam larang kremasi jasad, taman makam ekologis pertama muncul di Malaysia
Kremasi dianggap tabu dalam agama Islam. Umat Muslim yakin manusia harus dikembalikan seutuhnya untuk menunggu penghakiman dari Tuhan. Namun, di Malaysia, yang menganut sistem multireligius, tren pemakaman ramah lingkungan mulai muncul di kalangan non-Muslim.
==Liu Yuan-shan // Reporter PTS==
Di belakang saya adalah area pemakaman (warga Tionghua)
Sedangkan lahan hijau yang kita lihat saat ini
Adalah area pemakaman ekologis pertama di Malaysia
Proses penguburan ekologis di Taiwan sederhana, jadi tren ramah lingkungan baru
Pemakaman ekologis mengadopsi konsep dari Dharma Drum Mountain di Taiwan. Jenazah dikremasi dan digiling dahulu sebelum abunya dipendam ke dalam tanah oleh keluarganya, agar lahan bisa digunakan kembali. Konsep tanpa nisan dan makam ini, awalnya bertentangan dengan tradisi warga Tionghoa setempat. Namun seiring tren pelestarian lingkungan, semakin banyak warga Tionghoa memilih pemakaman ekologis.
Taman makam ekologis pertama di Malaysia, jadi alternatif baru bagi non-Muslim
Pihak usaha juga bekerja sama dengan universitas lokal selama tiga tahun, guna mempelajari apakah pemakaman ekologis berdampak pada tanah dan lingkungan. Dalam masyarakat yang beragam di Malaysia, pemakaman ekologis tidak dimaksudkan untuk menggantikan tradisi yang sudah ada, melainkan sebagai alternatif berkesinambungan yang ramah lingkungan.
