AS usulkan 15 tuntutan perdamaian, Iran menolak dan ajukan 5 tuntutan balasan
Dialog perdamaian menjelang pekan keempat konflik Amerika Serikat-Iran telah berkembang menjadi isu diplomatik penuh tantangan. Presiden AS Donald Trump kemarin mengklaim bahwa meski bersikap keras secara verbal, secara pribadi Iran sangat menginginkan perdamaian. Menteri Luar Negeri Iran segera membantah di televisi pemerintah, dengan tegas menolak 15 tuntutan AS, dan mengajukan lima tuntutan balasan, termasuk ganti rugi perang.
Trump: Iran ingin berdamai, pemimpinnya menyangkal karena takut pembalasan
Presiden AS Donald Trump mengklaim pada tanggal 25 bahwa militer AS telah meraih kemenangan besar dalam "Operasi Epic Fury" dan mengungkapkan bahwa Tehran sedang diam-diam mengusahakan kesepakatan perdamaian. Trump percaya, kepemimpinan Iran secara terbuka menyangkal hal ini karena mereka takut akan pembalasan dari rakyat mereka sendiri atau militer AS.
==Donald Trump // Presiden AS==
Mereka sangat menginginkan kesepakatan (perdamaian)
Tapi mereka tidak berani mengatakannya
Karena mereka merasa akan dibunuh oleh rakyat sendiri
Juga takut dibunuh oleh kami
Menlu Iran kritik sikap AS hanya tahu negosiasi sebagai pengakuan kekalahan
Namun, pernyataan ini segera dibantah oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbad Araghchi yang mengkritik AS hanya tahu terus-menerus membicarakan negosiasi, padahal itu pada dasarnya adalah "pengakuan kekalahan." Menurut Iran, AS telah menyampaikan 15 tuntutan melalui negara-negara sahabat seperti Pakistan dan Mesir, tapi ini hanyalah "pertukaran informasi," bukan "negosiasi."
==Abbad Araghchi // Menteri Luar Negeri Iran==
Ini bukan negosiasi atau dialog
Ini hanyalah pertukaran informasi antar teman
Iran tolak 15 tuntutan gencatan senjata Trump, ajukan 5 syarat perdamaian
Iran menolak proposal gencatan senjata AS dan mengajukan lima syarat sendiri, termasuk menghentikan pembunuhan terhadap pejabatnya, menjamin tidak ada perang lebih lanjut terhadap Iran, meminta ganti rugi perang, menghentikan permusuhan, dan meneruskan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz; jika tidak, Iran akan terus memblokir Selat Hormuz.
Secercah harapan? Kedok serangan baru? Rumor negosiasi menjadi sorotan
AS sebelumnya menyatakan bahwa jika Iran tidak menerima tuntutan tersebut, Trump akan melancarkan serangan yang mengerikan. Dengan meningkatnya ketegangan, apakah rumor negosiasi ini secercah harapan untuk perdamaian, atau hanya kedok sebelum gelombang serangan baru? Semua pihak sedang mengamati dengan saksama.
