Populasi Taiwan alami penyusutan, ketidakseimbangan gender, penurunan natalitas
Populasi Taiwan memasuki periode merosot drastis. Data menunjukkan, populasi tahun lalu berkurang 100.000 jiwa dibandingkan dua tahun lalu. Data juga menunjukkan adanya ketidakseimbangan gender sejak 2023, jumlah populasi pria banding wanita tahun lalu lebih sedikit 370.000 jiwa. Selain itu, angka kelahiran bayi pada Februari tahun ini turun di bawah 7.000 jiwa untuk pertama kalinya.
Populasi Taiwan merosot drastis, populasi pria:wanita selisih 370.000 jiwa
Warga Taiwan di masa lalu cenderung lebih suka anak laki-laki daripada perempuan, tapi kini tampaknya mulai berubah. Statistik Kementerian Dalam Negeri menunjukkan, populasi pria sudah lebih rendah dari wanita sejak 2023, dan lebih sedikit 370.000 jiwa banding wanita.
==Hsieh Guo-ching // Ketua Eksekutif Asosiasi TPEA==
Tidak perlu lebih menyukai anak laki-laki daripada perempuan
Tapi ada sebuah fenomena yang patut diperhatikan
Warga yang melahirkan 1-2 anak saja sudah merasakan beban berat
Maka tidak perlu terus melahirkan anak lagi
Angka kelairan bayi pada Februari turun di bawah 7.000, hanya capai 6.523 jiwa
Tren penyusutan bukan cuma dialami oleh populasi pria saja, namun populasi Taiwan secara keseluruhan juga menyusut. Populasi tahun 2023 masih melampaui 23,42 juta jiwa, namun pada 2025 turun hingga 23,29 juta jiwa lebih, berkurang 100.000-an jiwa. Dalam aspek natalitas, tahun lalu masih ada 7.000-an bayi yang lahir per bulan, namun pada Februari tahun ini, jumlahnya turun di bawah 7.000 untuk pertama kalinya, hanya mencapai 6.523 jiwa.
Angka kelahiran bayi rendah, dicemaskan berdampak pada pasar SDM masa depan
Pakar menilai, rendahnya angka kelahiran akan berdampak pada pasar SDM di masa depan. Walau ada sebagian profesi yang bisa digantikan oleh AI, pendapatan pajak pemerintah juga akan menurun tajam. Pemerintah diimbau untuk tidak hanya mengandalkan subsidi, namun juga menyediakan lingkungan kerja yang ramah keluarga guna mendongkrak angka kelahiran.
