Warga tak berkewarganegaraan bermukim di gunung sampah Sabah, Malaysia
Sekelompok orang tak berkewarganegaraan bermukim di tempat pemrosesan akhir sampah di Lahad Datu, Sabah Malaysia. Mereka mencari nafkah dengan mencari bahan daur ulang dari gunung sampah. Lingkungan kerja yang keras ini menjadi kesempatan mengubah nasib dan bertahan hidup mereka. Mari kita simak laporan reporter internasional PTS langsung dari lapangan.
Warga pungut barang berharga dari tumpukan sampah untuk didaur ulang
Sebuah truk sampah membuang sampah ke gunung sampah di Lahad Datu, Sabah. Bau busuk memenuhi udara. Warga yang tinggal di sini memungut barang-barang berharga yang dapat didaur ulang dari tumpukan sampah satu per satu.
==Tim (nama samaran) // Warga tak berkewarganegaraan di Sabah==
(Ini apa) kabel kabel
Di dalamnya ada kawat besi
Belasan keluarga tinggal di gunung sampah, ratusan orang cari nafkah di sini
Tempat pembuangan sampah ini beroperasi tahun 2012. Saat ini, belasan keluarga tinggal di sekitar gunung sampah, ratusan orang mencari nafkah dengan memungut sampah di sini.
Uang yang didapat dari daur ulang dipakai bangun rumah dan kelola budidaya alga
Emma juga bekerja di gunung sampah sejak awal dengan penghasilan 500 Ringgit sebulan, setara dengan NT$ 3.500. Dengan uang yang didapat dari memungut dan mendaur ulang, ia membangun rumah terapung di pantai yang berjarak 5 menit dari gunung sampah. Ia juga membudidayakan alga di perairan sekitarnya dan beralih menjual alga untuk bertahan hidup.
Bagi yang tak berkewarganegaraan, tumpukan sampah adalah peluang emas
Bagi kaum yang tidak memiliki kewarganegaraan, gunung sampah adalah peluang untuk mengubah kehidupan mereka.
==Emma (nama samaran) // Warga tak berkewarganegaraan di Sabah==
Tanpa itu sudah dipindahkan tempatnya
Orang semua di situ termasuk saya tak ada kerjalah
Tiada sudah kerja, tidak tau mau buat apa
Mau cari makan di mana
Warga tak berkewarganegaraan tak mampu beli rumah, rumah mereka di atas laut
Di desa warga tak berkewarganegaraan lainnya di Lahad Datu, Sabah, setiap pagi, warga desa harus mendayung perahu dari rumah mereka ke pantai untuk mengambil air bersih. Warga tak berkewarganegaraan juga tidak sanggup membeli rumah, sebagian besar membangun rumahnya di atas laut, di Sabah banyak desa rumah terapung seperti ini.
==Lina (nama samaran) // Warga tak berkewarganegaraan di Sabah==
Karena di sini kan walaupun kehidupan tiada sumber keuangan
Kita boleh tinggal di rumah sendiri
Dulu saya hidup menyewa
Jadi setiap bulan kadang-kadang saya tidak boleh (sanggup) bayar dalam 1 bulan
Komunitas tak berkewarganegaraan terus hadapi ancaman penangkapan
Desa-desa dengan warga tak berkewarganegaraan ini sama dengan desa lainnya, ada toko, tempat ibadah, bahkan area pembuatan kapal kecil. Namun, warga tak berkewarganegaraan terus menghadapi ancaman penangkapan.
==Lia (nama samaran) // Warga tak berkewarganegaraan di Sabah==
Laki saya karena ditangkap
Saya sekarang susah tak ada usaha
Banyak anak itu, laki saya tak ada
(Ada berapa anak) Ada 7, 1 meninggal
Tinggal 6 lah begitu
==Liang De-shan // Reporter PTS==
Di pusat perkotaan yang hiruk-pikuk
Sering terlihat warga tak berkewarganegaraan
Yang berkeliaran di atas jalan
Untuk meminta sedekah atau makanan dari pejalan kaki
Kendala warga tak berkewarganegaraan diwariskan turun-temurun
Di Sabah, warga tak berkewarganegaraan menghadapi berbagai kendala hidup dan kendala yang tak terselesaikan ini mungkin akan terus diwariskan pada generasi berikutnya.
