Perusahaan daging tiruan membuat bakso besar dari DNA mamut
Sebuah perusahaan daging tiruan di Australia menggabungkan DNA protein otot mamut yang berusia empat ribu tahun ke dalam sel punca domba untuk membuat bakso besar. Baru-baru ini, bakso dipamerkan di Museum Nemo di Belanda. Pengolah daging mengatakan bakso beraroma seperti daging buaya.
Reaksi cengang bergema dari atas panggung saat pengungkapan bakso mamut artifisial yang direkayasa di laboratorium. Pendiri perusahaan daging artifisial di Australia menegaskan, ini bukan produk sembarangan. Setelah mereka mendapatkan DNA mamut yang tersedia untuk umum, mereka menambahkan kode genetik yang hilang dari kerabat dekatnya, yakni gajah Afrika kemudian memasukkan urutannya ke dalam sel punca domba dan mereplikasi 20 miliar sel untuk membuat bakso daging mamut. 34"
Tak pernah makan bakso mamut, Ilmuwan: Harus lewat pengujian ketat
Ilmuwan merebus bakso raksasa di dalam oven sebelum membakar permukaannya menjadi cokelat tua. Soal rasa, belum ada yang berani memakannya, karena protein berusia 4.000 tahun ini masih harus diuji apakah aman dikonsumsi manusia. Namun, pengolah bakso mengatakan aromanya mirip daging buaya.
Tim Noakesmith // Pendiri perusahaan daging artifisial VOW, Australia
Kita sekarang tidak makan bakso mamut
Kemudian bukan berarti kalian tidak bisa makan
Tetapi karena protein ini sudah berusia 4.000 tahun
Ilmuwan rekayasa daging buatan untuk tekan efek penghangatan global
Makna lain dari bakso buatan yang dipajang di museum iptek NEMO di Amsterdam, Belanda adalah untuk menyoroti hubungan antara mengonsumsi daging dan perubahan iklim. Menurut data PBB, konsumsi daging global hampir dua kali lipat sejak awal 1960. Di antara total emisi gas rumah kaca manusia, peternakan mencapai pangsa 14,5%. Konsumsi daging diperkirakan akan meningkat sebesar 70% pada 2050. Para ilmuwan mencoba membalikkan tren tersebut lewat produk seperti daging buatan atau daging nabati.
