Kontroversi pengangkatan Thomas Djiwandono, Rupiah anjlok ke titik terendah
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS mendekati angka terendah yakni hampir Rp17.000 per dolar AS pada akhir bulan lalu. Menurut laporan Reuters, anjloknya nilai tukar rupiah ini dipicu kekhawatiran para investor terhadap independensi bank sentral setelah Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menyetujui pengangkatan keponakannya sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Independensi BI terdampak faktor nepotisme, Rupiah jatuh ke titik terendah
Fluktuasi nilai tukar valuta asing (valas) 1 dolar Amerika berada di kisaran Rp.14.000-16.000 dalam beberapa tahun terakhir Namun, sejak akhir tahun lalu hingga awal tahun ini, nilai tukar dolar Amerika mendekati Rp.17.000. Tanggal 20, nilai tukar valas mencapai titik terendah dalam sejarah, Rupiah jatuh 3%, dengan nilai tukar sebesar Rp.16.985 banding 1 dolar Amerika. Media Reuters melaporkan, hal ini terjadi karena Presiden Prabowo Subianto mengabaikan kekhawatiran umum terhadap independensi Bank Indonesia dengan mencalonkan dan mengangkat keponakannya, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Diamati dari faktor domestik, jatuhnya Rupiah merupakan dampak dari ketidakpercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah, yang mencemaskan bahwa pemerintah akan memperalat Bank Indonesia sebagai media ekspansi otoritasnya, sehingga berdampak pada stabilitas ekonomi dan pasar valuta asing secara keseluruhan.
Ketergantungan pada impor bahan baku membuat harga barang Indonesia melonjak
Pakar menjelaskan, depresiasi Rupiah kali ini relatif kecil, namun jika diamati dari segi transformasi iklim finansial global, setelah anjlok 3,5% tahun lalu, pada Januari lalu saja, Rupiah kembali mendepresiasi sebesar 2%, mencatat kinerja terburuk di pasar valas sejak krisis moneter Asia tahun 1997. Hal ini berdampak langsung pada sektor bisnis dan masyarakat. Berhubung Indonesia sangat mengandalkan impor, melemahnya kinerja pasar valas telah menyebabkan harga barang impor melonjak 30%-45%, sehingga memangkas daya beli rumah tangga dan menipiskan keuntungan perusahaan secara signifikan.
BI lakukan intervensi penyelamatan Rupiah, namun efektivitasnya dinilai tak kentara
Bank Indonesia telah melakukan intervensi beberapa kali guna menopang Rupiah, termasuk menjual cadangan devisa untuk menstabilkan nilai tukar dan mendongkrak suku bunga untuk menarik investasi asing, namun efektivitasnya dinilai terbatas. Statistik menunjukkan, nilai investasi yang hengkang dari Indonesia sejak 2024 mencapai total miliaran dolar Amerika, mayoritas dipicu oleh kesangsian terhadap reformasi ekonomi Prabowo atau menganggap laju reformasi terlalu lamban.
Reformasi ekonomi tak buahkan hasil, sistem finansial Indonesia dicemaskan kolaps
Menanggapi kekhawatiran umum bahwa depresiasi Rupiah yang berkelanjutan mungkin merupakan pertanda krisis finansial, hasil pengamatan menunjukkan bahwa Indonesia belum muncul tanda-tanda negatif berupa penarikan dana besar-besaran dari bank atau gelombang kebangkrutan pada perusahaan. Walau dilanda hengkangnya investasi asing, sistem keuangan Indonesia tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda kolaps.
