AS dan Jepang berupaya untuk lepas dari ketergantungan tanah jarang Tiongkok
Jepang dan Amerika Serikat mulai mencari solusi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada tanah jarang dari Tiongkok. Pemerintah Jepang mengumumkan keberhasilan mengekstrak unsur tanah jarang dari dasar laut dalam di sekitar Pulau Minami Torishima. Sementara itu, Amerika Serikat resmi meluncurkan Proyek Brankas untuk menimbun cadangan mineral kritis bagi industri otomotif dan teknologi.
Cadangan tanah jarang dasar laut Minami Torishima diduga terbesar ketiga di dunia
Pemerintah Jepang pada 2 Februari mengumumkan keberhasilan kapal riset JAMSTEC mengambil sampel lumpur yang mengandung unsur tanah jarang dari dasar laut sedalam 6.000 meter di sekitar Pulau Minami Torishima. Cadangan di lokasi tersebut diperkirakan mencapai sedikitnya 16 juta ton, terbesar ketiga di dunia. Jepang berencana memulai uji coba penambangan skala besar paling cepat pada tahun 2027. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok tanah jarang dari Tiongkok.
Trump umumkan peluncuran Proyek Brankas sebagai cadangan mineral kritis
Di sisi lain, pada 2 Februari, pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat mengumumkan peluncuran Proyek Brankas dengan anggaran mencapai US$12 miliar. Inisiatif ini bertujuan menimbun mineral kritis yang dibutuhkan oleh industri manufaktur, termasuk otomotif dan teknologi. Pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa tujuan utama dari rencana ini adalah untuk menjamin keamanan pasokan dan penyimpanan, serta mengurangi ketergantungan Amerika Serikat terhadap mineral kritis dari Tiongkok.
