TASAT rilis buku bergambar baru, ilustrasikan hubungan imigran baru+generasi ke-2
Saat membuka halaman pertama buku bergambar ini, pembaca langsung terpikat oleh warna-warni gaya artistiknya. Buku ini merupakan hasil kolaborasi antara Asosiasi TransAsia Sisters (TASAT) dan ilustrator Tsai Yu-ning, yang mengisahkan pengalaman hidup penduduk setempat, imigran baru dan generasi kedua di Taiwan.
==Hong Man-zhi // Imigran baru asal Vietnam==
Gambar di halaman ini meninggalkan kesan mendalam bagi saya
Karena kain rombeng yang terlukis di halaman ini
Mewakili setiap imigran baru dan perjuangan yang mereka hadapi di Taiwan
Buku ilustrasikan kisah kehidupan imigran baru yang terus bersinar di era berbeda
Karya ini menggunakan tiga karakter, yakni batu, kertas dan gunting untuk merepresentasikan kalangan berbeda. Batu melambangkan penduduk asli di atas pulau. Kertas melambangkan pendatang baru, mencakup imigran dan PMA, sedangkan gunting melambangkan mereka yang secara tidak sengaja melukai orang lain. Kisah ini berlatar di sebuah pulau tempat imigran tiba dari jauh, lalu perlahan membangun kehidupan, keluarga dan karier di tanah asing ini sembari mendukung orang-orang di sekitar mereka dengan cara mereka yang khas. Cerita ini juga mengikuti perjalanan generasi kedua yang tumbuh besar bersama ibu mereka. Setelah beranjak dewasa, mereka akhirnya memahami penderitaan yang pernah dialami ibu mereka.
==Wu Yi-ting // Generasi kedua asal Tailan==
Kain terbawa arus dari seberang lautan
Menyerupai perjalanan ibu saya yang menyeberangi samudra dari Tailan ke Taiwan
Lalu saat menghabiskan waktu bersamanya
Kerap timbul konflik, konfrontasi bahkan pertengkaran
Karena kepribadian kami yang begitu mirip
Dengan demikian, sang gunting pun tak sengaja memotong dan melukai kain
TASAT rilis buku bergambar baru, ilustrasikan hubungan imigran baru+generasi ke-2
Menariknya lagi, karakter dalam buku ini tidak selalu statis. Kertas bisa berubah menjadi batu dan batu terkadang bisa berubah menjadi gunting. Hal ini melambangkan, biar bagaimana pun, kita mungkin pernah memainkan peran sebagai kertas, gunting atau batu. Hanya dengan saling merangkul dan menerima perbedaan masing-masing, Taiwan baru dapat menjadi sebuah tempat inklusif yang indah dan dinamis.
