Setelah melalui konflik+perang selama 20 tahun, AS tarik pasukan koalisi dari Irak
Perang renggut nyawa 4.000-an tentara AS, Baghdad pasang reklame perayaanJalanan di Ibu Kota Irak, Baghdad dipenuhi papan reklame raksasa yang merayakan penarikan pasukan koalisi. Sejak AS menginvasi Irak dan menggulingkan rezim Saddam Hussein pada 2003, perang ini telah membuat AS menanggung akibat fatal yang menewaskan total 4.500 jiwa pada pasukan AS. Menjelang tenggat waktu pada 30 September, pasukan koalisi akan menarik diri sepenuhnya secara resmi.==Warga Irak==Kami tentu saja setuju bahwa AS dan Turkiye menarik pasukan merekaKarena hal ini memungkinkan Irak meraih kembali kedaulatan dan kemerdekaannyaDan tidak butuh campur tangan internasional demi mendapatkan perlindunganJuga tidak perlu tentara militer dari negara asing mana punUntuk ditempatkan di dalam kawasan IrakKami memiliki pasukan keamanan kami sendiriMereka siap setiap saat untuk menaklukkan terorismeTanpa kekuasaan geopolitik, Irak berpotensi didominasi militan Syiah pro-IranWalau Perdana Menteri Irak menetapkan sehari setelah penarikan pasukan sebagai "Hari Kedaulatan," kepergian pasukan AS telah menciptakan kekosongan kekuasaan geopolitik masif di wilayah setempat. Di tengah berlanjutnya ketegangan antara AS dan Iran, kelompok militan bersenjata Syiah yang pro-Iran memandang penarikan pasukan AS sebagai kemenangan besar, yang ditafsirkan akan membuat pengaruh Iran di Irak secara substansial semakin meluas.==Kazem al-Fartousi // Juru bicara kelompok milisi Kata'ib Sayyid al-Shuhada (KSS)==Saat ini, kelompok-kelompok iniLebih berkomitmen dari sebelumnyaDalam membela kedaulatan dan kepentingan IrakKarena mereka sekarang memahamiPentingnya senjata mereka sendiriPenarikan tentara AS timbulkan kekosongan, situasi keamanan Irak temui tantanganDuta Besar AS untuk PBB menegaskan betapa kokohnya hubungan dengan suku Kurdi, tapi tanpa perlindungan pasukan koalisi, kecemasan di antara suku Kurdi semakin meningkat. Seiring dengan penarikan pasukan AS, Irak menyambut pulihnya kedaulatan secara penuh. Namun, di tengah perebutan kekuasaan regional dan ancaman kelompok ekstremis, ke depannya, situasi keamanan negara yang menderita kehancuran akibat perang ini kemungkinan akan diwarnai oleh berbagai tantangan berat.