Kenakan busana tradisional nan menawan, para PMI berparade di jalanan Taipei
PMI gelar Formosa Warrior Culture Festival, tampil meriah di jalanan Taipei
Ratusan pekerja migran Indonesia dari seluruh Taiwan berkumpul sejak pagi di pelataran Stasiun Taipei untuk menghadiri parade Formosa Warrior Culture Festival yang kini telah memasuki tahun ketiga. Para peserta yang mengenakan busana tradisional hasil rancangan pribadi berbaris dalam formasi tertib keluar dari Pintu Exit M5 Stasiun Taipei menuju Museum Taiwan Nasional di Taman 228.
Kostum dirancang khusus, memadukan unsur kebudayaan dan kreativitas pribadi
Setiap kostum yang dikenakan para pekerja migran dirancang dengan cermat, banyak di antaranya yang memadukan unsur kebudayaan tradisional Indonesia dengan menampilkan kreativitas pribadi untuk menonjolkan nuansa khas Asia Tenggara dan kharisma diri. Layaknya peragaan busana, jalanan di Taipei pun menjadi panggung peragaan busana mereka. Peserta dengan antusias memperkenalkan kekayaan ragam budaya Indonesia kepada warga Taiwan yang kebetulan lewat di sekitarnya.
==Lee Ming-dao // Warga Taiwan==
Peserta (karnaval) sangat menawan
Lebih menarik dibandingkan dengan acara yang diselenggarakan oleh orang Taiwan
Dicetus ketua grup tari UTERS, karnaval jadi wadah ekspresi kreativitas para PMI
Ide karnaval ini berasal dari ketua grup tari UTERS yang semula diusulkan sebagai wadah pementasan tari para anggotanya. Walau sempat menghadapi berbagai kendala, karnaval ini malah mendapat sambutan positif dari para peserta yang dapat menyalurkan kreativitas dan menampilkan pesona dan aura diri mereka. Oleh sebab itu, Dian pun berkomitmen untuk terus menyelenggarakan karnaval ini setiap tahunnya.
Lukiskan diri sebagai "pejuang", para PMI unjuk gigi, tampilkan budaya nusantara
Penyelenggara menjelaskan, acara ini dinamai "Warrior Culture Festival" karena mereka mengilustrasikan PMI yang bekerja di luar negeri sebagai pejuang yang bertarung untuk meningkatkan taraf kehidupan keluarganya. Karnaval ini bukan hanya sekadar perayaan spektakuler, namun juga merupakan wujud ekspresi budaya nusantara yang dihadirkan oleh para pejuang Indonesia di tanah Formosa lewat tetesan keringat dan air mata mereka.
