El Nino picu kekeringan, ganggu transportasi dan distribusi kelapa sawit
El Nino picu kekeringan, sungai kering, petani kecil menderita
Pemanasan suhu perairan Samudra Pasifik di lepas pantai Amerika Selatan memicu fenomena super El Nino, yang berdampak pada cuaca panas dan ekstrem di Asia Tenggara. Kondisi ini menghambat transportasi sungai di Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Ketinggian air Sungai Kapuas di Kalimantan Barat turun drastis hingga memunculkan gosong pasir dan menyebabkan sejumlah kapal kandas. Asosiasi Minyak Kelapa Sawit Indonesia menyatakan bahwa sungai ini merupakan jalur vital bagi pengangkutan 40% produksi sawit di provinsi tersebut.
Distribusi sawit terkendala, tangki penuh, pendapatan petani terdampak
Akibat pengiriman terhambat, tangki penyimpanan pabrik kelapa sawit hampir penuh sehingga pembelian terpaksa dikurangi. Seorang petani kecil yang membawa 7 ton kelapa sawit untuk dijual tetap ditolak meski telah mengantre hingga empat hari.
Tiga bulan kabut asap, kebakaran tak kunjung padam, omzet pedagang anjlok
Sementara itu, warga Kalimantan Tengah juga terdampak kabut asap yang telah berlangsung selama tiga bulan dan kian memburuk. Imbauan mengurangi aktivitas luar rumah membuat pedagang gorengan yang biasanya habis pada jam enam sore harus berjualan hingga jam 9 atau 10 malam. Di sisi lain, kekurangan air juga mempersulit petugas damkar dalam memadamkan titik api.
Asap karhutla meluas ke Singapura dan Malaysia, sejumlah sekolah diliburkan
Dampak kabut asap kian meluas hingga ke negara-negara tetangga. Kualitas udara di Singapura telah bertahan pada tingkat tidak sehat selama 14 hari. Sementara itu, sejumlah sekolah di Malaysia terpaksa ditutup. BMKG Indonesia memperkirakan awal musim hujan yang biasanya dimulai pada awal Oktober akan mundur hingga November. Kenaikan debit air sungai dan pemadaman karhutla diperkirakan ikut tertunda.
