Karhutla RI membara, induk+anak orang utan terpaksa mengungsi demi makanan
Habitat terbakar, induk orang utan alami dehidrasi, luka bakar dan gigi aus
Anestesi ditembakkan ke arah orang utan yang bergelantungan di puncak pohon. Saat jatuh ke jaring penyelamat, seekor bayi orang utan terlihat memeluk erat tubuh induknya yang tak sadarkan diri dan menolak melepaskan pegangan sepanjang proses penyelamatan. Tim dokter hewan langsung memasang selang oksigen untuk menangani kondisi induknya yang sangat lemah, mengalami dehidrasi parah, luka bakar di tangan dan kaki, serta kondisi gigi yang aus parah.
Jumlah orang utan yang diselamatkan melonjak, sarana medis+rehabilitasi terbatas
Dalam operasi penyelamatan lain, sepasang induk dan anak orang utan berhasil dievakuasi dari hutan yang diselimuti asap tebal. Sepanjang pemeriksaan medis, si bayi terus menangis memeluk erat sang induk. Sejak Agustus hingga September, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Indonesia rutin berpatroli di kawasan kebakaran untuk menyisir satwa yang terjebak. Namun, banyaknya orang utan yang kehilangan habitat memicu krisis baru, yaitu kapasitas tempat penampungan kian penuh dan pasokan medis mulai menipis.
Obat bius sulit didapat, 18 orang utan berhasil dievakuasi
Selain krisis penampungan, kelangkaan obat bius kini menghambat proses penyelamatan. Hingga saat ini, sebanyak 18 orangutan berhasil dievakuasi ke pusat rehabilitas di Ketapang, Kalimantan Barat, untuk menjalani perawatan intensif. Namun, lolos dari kobaran api barulah tahap awal. Para korban masih harus berjuang pulih dari kelaparan, luka-luka dan paparan asap pekat, sementara tim dokter hewan terus mengevaluasi kesiapan mereka untuk dapat dilepaskan ke alam bebas.
