Arakan ARMY kembali melalukan konfrontasi pertikaian

發布時間: 更新時間:
Arakan ARMY kembali melalukan konfrontasi pertikaian
 
      Krisis kemanusiaan pengungsi Rohingya di utara Rakhine, Myanmar telah berlangsung lebih dari satu tahun. Belum usai masalah, kini kembali terjadi pertikaian baru. Awal Desember tahun lalu, komplotan pemberontak beragama Buddha, Arakan ARMY, dengan alasan memperjuangkan lebih banyak lagi hak independen etnis Rakhine, kembali melakukan konfrontasi dengan tentara nasional Myanmar, yang menyebabkan lebih dari 2.500 orang kehilangan tempat tinggal.
 
Arakan ARMY serbu markas polisi, 13 polisi tewas
 
      Arakan ARMY tidak puas dengan keikutsertaan aparat polisi dalam pertikaian yang terjadi, menjadikan kantor polisi sebagai pangkalan aktivitas kemiliteran. 300 an pemberontak pada tanggal 4 Januari, hari di mana Myanmar genap 71 tahun melepaskan diri dari kependudukan Inggris, menyerbu empat kantor polisi, mengambil senjata dan peluru yang ada di dalamnya. Dalam pertikaian tersebut, 13 polisi dinyatakan meninggal, sembilan luka dan tiga pemberontak tewas. Ada 10-an polisi yang ditawan, namun dibebaskan pada keesokan harinya. Tentara nasional Myanmar tidak lama kemudian menguasai kembali kantor polisi yang sempat diduduki oleh komplotan pemberontak.
1547792164a.jpg
1547792164a.jpg
Proses perdamaian pelan, kekacauan terus terjadi
 
      Tiga tahun silam, pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi sempat menyatakan akan menyelesaikan pertikaian dalam negeri dengan cara damai, menjadi tugas utama yang akan dilakukan. Namun beberapa tahun telah berlalu, selain krisis Rohingya yang menjadi perhatian media internasional, banyak pertikaian skala kecil antar etnis yang terjadi di dalam negeri Myanmar. Sebelum pertikaian besar terjadi kemarin, ada pakar yang mengingatkan bahwa kondisi permasalahan antar etnis di Myanmar akan semakin memburuk.
 
Editor: Tony Thamsir
 
本網站使用 Cookie 技術提升體驗,詳見服務條款。繼續瀏覽即代表同意上述規範。