Monyet mengepung gedung pemerintah India
發布時間:
更新時間:
Monyet mengepung gedung pemerintah India
Terdapat sekumpulan besar monyet berwajah merah (Rhesus macaques) pada New Delhi, ibu kota India. Jumlah mereka diperkirakan mencapai 400-500 ribu ekor oleh pemerintah, lima ribu ekor diantaranya beroperasi di sekitar lembaga-lembaga penting seperti istana presiden. Monyet-monyet ini tidak hanya merampas makanan dan ponsel orang yang lewat, terkadang juga masuk ke gedung dan menyobek dokumen penting yang membuat staf pemerintah kewalahan.
Staf Kementerian Dalam Negeri mengatakan monyet berwajah merah sering merampas makanan orang di jalan, terkadang mereka bahkan masuk ke dalam gedung lewat jendela dan menyobek dokumen.
Habitat monyet dan manusia tumpang tindih
Semua orang mengeluh tentang hal ini, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan. Pesatnya perkembangan kota membuat habitat monyet dan manusia menjadi tumpang tindih secara bertahap, mereka terpaksa memasuki komunitas manusia untuk mencari makanan sehingga pertentangan tidak dapat dihindari. Selain itu, monyet dianggap sebagai inkarnasi Dewa Hindu Hanoman, sehingga warga kerap memberi mereka makan pisang. Lama-lama, monyet menjadi tidak takut terhadap manusia dan semakin merajalela.
Menurut staf Kelompok Pelindung Satwa, satu-satunya cara untuk memecahkan masalah adalah semua orang harus berhenti memberi makan monyet. Karena bila dilakukan terus menerus, monyet akan berpikir mereka akan selalu mempunyai makanan sehingga selalu datang terus.

Staf pemerintah membawa senjata untuk melawan monyet
Beberapa tahun lalu, pemerintah India mengimpor monyet daun natuna yang ditakuti monyet berwajah merah untuk berpatroli dan mengusir mereka, juga mengupahi 40 orang untuk meniru jeritan monyet daun natuna guna menakuti monyet berwajah merah. Efeknya terlihat dalam jangka waktu pendek, tetapi tidak mengatasi masalah akarnya. Selepas kerja, staf pemerintah hanya bisa membawa tongkat dan batu, dan menghafal daftar panjang rekomendasi pencegahan serangan monyet dari Kongres untuk melindungi keamanan diri.
Editor: Shantina
