Kesulitan untuk Menjadi Pengajar Tetap Bahasa Vietnam
發布時間:
更新時間:

Kesulitan untuk Menjadi Pengajar Tetap Bahasa Vietnam
Tsai Yu-jie, dengan berbagai penghargaan prestasi dari sekolah, adalah generasi kedua imigran baru asal Vietnam. Ia kembali ke Taiwan tahun 2010 dan kini tengah menempuh pendidikan strata dua. Ia ingin mengembangkan bahasa Vietnam di Taiwan, namun karena tidak dapat mengajar secara tetap, maka hanya dapat sebagai pengajar lepas di beberapa sekolah.
Pengusung Pengembangan Bahasa Asia Tenggara di Taiwan, Tsai Yu-jie mengatakan, “Lima sekolah ini, mayoritas tersebar di kawasan Taipei, termasuk Taipei, Keelung, New Taipei City. Jika tidak memiliki posisi sebagai pengajar tetap, maka saya tidak akan dapat mengajar di universitas ini, karena universitas ini hanya bisa memberikan kesempatan mengajar untuk 4 hingga 6 kredit.”
Menurut Tsai Yu-jie, SDM guru bahasa Asia Tenggara di universitas mayoritas bersifat lepas atau program khusus, bukan pengajar tetap. Demi kelangsungan hidup, maka guru kerap harus mengajar di beberapa tempat, sehingga sulit untuk menjaga kualitas pendidikan dan penelitian.
Pengusung Pengembangan Bahasa Asia Tenggara di Taiwan, Tsai Yu-jie mengatakan, “Bagi yang memiliki kemampuan berbahasa Asia Tenggara, maka ia lebih berkeinginan untuk bekerja di negara-negara kawasan Asia Tenggara. Jika dibandingkan dengan kondisi di Taiwan, yang harus mengajar di berbagai tempat, maka sudah tentu bekerja di kawasan Asia Tenggara akan jauh lebih stabil dan penghasilan lebih banyak
Mulai tahun 2019, bahasa-bahasa Asia Tenggara akan dimasukkan dalam kurikulum pilihan pelajar SD. Setiap universitas juga mulai membuka kelas pendidikan bahasa Asia Tenggara, namun karena hak dan kesejahteraan guru masih belum terjamin, sulit menarik perhatian pakar muda, dimana mereka justru diincar oleh perusahaan bidang lain. Untuk itu Kementrian Pendidikan masih harus mempertimbangkan cara perbaikan lingkungan pendidikan yang ada.
Editor: Tony Thamsir
