Turis dan nelayan jadi pelindung utama laut dan hutan bakau Indonesia
Ibu kota Indonesia, Jakarta menghadapi masalah penurunan lapisan tanah yang parah. Otoritas setempat meluncurkan sebuah proyek penanaman hutan bakau untuk dijadikan sebagai penangkal alami air pasang. Mereka juga mengembangkan wisata ekologi hutan bakau, di mana pengunjung dapat mengayuh sampan di dalam zona pasang surut sambil bermain dan menanam pohon.
Wisata tanam pohon mangrove di area cagar alam hutan bakau
Terdapat sebidang cagar alam hutan mangrove di pesisir utara Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Wisatawan menggunakan perahu menikmati ketenangan alam untuk jeda sejenak dari hiruk-pikuk, sambil menanamkan bibit pohon mangrove di bawah bimbingan pecinta lingkungan dan berkontribusi untuk lingkungan alam ibu kota negara.
4,1 juta hektar hutan bakau Indonesia terancam penebangan liar
Ibu Kota Jakarta telah lama dilanda banjir dan badai akibat cuaca yang ekstrim, ditambah pemompaan air tanah yang berlebihan, mempercepat penurunan tanah dengan rata-rata 15 cm per tahun, yang menjadi salah satu penyebab pemindahan ibu kota. Hutan mangrove adalah tanggul alami yang dapat melindungi tanah dari pasang surut laut. Pada tahun lalu, pihak berwenang Indonesia memulai sebuah proyek untuk memulihkan 600.000 hektar hutan bakau. Namun, hutan bakau harus tumbuh selama lima hingga sepuluh tahun sebelum mampu menahan pasang surut air laut. Di samping itu, konstraktor sekitar juga berlomba-lomba untuk menjadikan area hutan bakau sebagai tempat rekreasi membuat upaya perlindungan lingkungan sangat terganggu, meskipun menghadapi ragam tantangan, namun program perlindungan tetap harus di lanjutkan. 98 hektar area cagar alam ini hanyalah sebagian kecil dari 4,1 juta hutan mangrove di seluruh pesisir Indonesia, yang dalam setahun terakhir telah ditebang 700.000 hektar.
