Pengusungan program “PMA menjadi imigran” memikat pekerja migran

Kementerian Ketenagakerjaan per November kembali mengizinkan PMI datang ke Taiwan, namun kebutuhan PMA dalam negeri masih sangat besar, ditambah dengan persaingan dari pihak Jepang dan Korea yang merekrut PMA dengan upah gaji yang lebih tinggi, menarik minat PMA asal Asia Tenggara. MOL kembali mengajukan program baru, dengan harapan dapat mempertahankan pekerja migran yang berpotensi dan mampu berbahasa Mandarin.

PMA bekerja 6 tahun berturut, bersertifikasi, bisa ajukan izin permanen

Sebelumnya pekerja rumah tangga, perawat, manufaktur, nelayan, karena adanya batasan waktu bekerja, maka tidak dapat mengubah status menjadi imigran. Berkat perencanaan dari MOL, maka pekerja kerah biru yang telah bekerja di Taiwan selama 6 tahun, dan bersertifikasi keterampilan, memiliki upah yang lebih tinggi dari upah minimum rata-rata, setelah mendapatkan pengesahan dari MOL, dapat mengajukan perubahan status menjadi ARC permanen, selain dapat turut menikmati dana pensiun, anak yang telah dewasa juga dapat bekerja di Taiwan tanpa ada batasan jenis pekerjaan.

PMA profesional diharapkan dapat mengisi kekosongan SDM  

Saat ini MOL tengah mendesain program terbaru ini, termasuk bidang industri dan level pengujian keterampilan, paling cepat dapat dimulai pada tahun depan. Sebelumnya banyak yang mengkritik program PMA tersebut, bahkan menyebutkan program tersebut hanya membantu mendidik SDM negara lain, dengan membatasi masa kerja hanya satu tahun, dan akhirnya diambil oleh Jepang atau Korea. Oleh sebab itu, selain akan membuka pintu bagi PMA, juga akan membantu mengubah status PMA agar dapat menjadi SDM profesional di Taiwan.