Cosmo Park Jakarta yang telah hidup 10 tahun tuai kontroversi

1568601202v.jpg
 
   Tinggal jangka panjang di pusat kota Jakarta yang padat, macet, terpolusi dan menghadapi krisis penurunan muka tanah, namun masih ada ruang gerak yang tawarkan ketenangan bagaikan di luar kota, Cosmo Park, dapat ditemukan di lantai teratas dari sebuah gedung mal berketinggian 10 lantai, tertata lima areal kawasan huni, dengan bentuk villa berlantai dua, dan setiap kawasan tercatat ada sebanyak 70-an kepala keluarga. Wujud luar kotak simetris, tanaman hijau mengelilingi kawasan huni, yang boleh disebut bernuansa barat. Anak kecil dapat bebas bersepeda, berenang dan main bola. Kawasan huni ini sudah mulai ada sejak 10 tahun silam, hanya dinikmati oleh kalangan jetset. Orang yang di luar Jakarta, bahkan sama sekali tidak mengetahui hal tersebut, dan satu bulan belakangan ini, kembali memicu kontroversi, yang merambah hingga ke dunia maya.
 
Cuitan Twitter dengan tampilan video drone sita perhatian
   Cosmo Park belakangan ini menjadi bahan pembicaraan, tepatnya pada bulan Juni tahun ini, ada seorang netizen mengunggah rekaman video dengan pesawat drone. Cuitan di Twitter tertulis: Selamat pagi Jakarta, siapa gerangan yang terpikirkan untuk menambah konstruksi rumah huni di atap sebuah gedung? Kemewahan yang terpampang dalam rekaman video, membuat semua orang terkesima, dengan latar belakang pembangunan skala raksasa kota Jakarta. Bangunan bertingkat dan rumah berlantai rendah, menjadi terlihat sangat mencolok dan tidak serasi, sehingga menjadi pusat perhatian massa.
 
Ada 2 titik kawasan huni sejenis yang memiliki surat izin resmi
   Cuitan twitter dibagikan lebih dari 27 ribu pengguna, sehingga menjadi bahan pembicaraan hangat para netizen. Ada yang bertanya, sopir pengirim barang apakah bisa menemukan jalannya, ada yang bertanya bagaimana melarikan diri saat gempa, ada yang mengkritik ini adalah busa untuk akhir era modern, bahkan banyak yang membahas serius perihal pembangunan kota. Sebenarnya kawasan huni tersebut dibangun oleh perusahaan konstruksi skala besar setempat dan telah memiliki perizinan pembangunan yang memenuhi peraturan. Perusahaan yang sama juga telah membangun kawasan huni sejenis di atap sebuah gedung mal di utara Jakarta.
   Seleb Netizen Jebroz Cheng mengatakan, “Garis perbatasan angkasa untuk gedung pencakar langit di Jakarta yang indah ini, dapat menemukannya dengan hanya melihat dari taman belakang rumah villa. Lihat panorama ini, kakak adik sekalian. Ya Tuhan, sangatlah indah. Pemandangan yang belum tentu bisa dibeli dengan uang.”
 
Jakarta hadapi krisis macet total, polusi dan penurunan tanah
   Fenomena ini membiaskan kondisi pembangunan yang mulai terjerat, sepuluhan juta orang saja telah membebani kota, dengan kemacetan jangka panjang, polusi, kepadatan yang menyesakkan nafas, penggunaan air tanah berlebihan, dan beban baru dari pembangunan gedung pencakar langit, semuanya mempercepat penurunan tanah kota. Ditambah lagi dengan naiknya permukaan air laut, maka diprediksi tahun 2050 Jakarta bagian utara akan tenggelam. Seluruh bagian kota menghadapi krisis yang sama, yakni tenggelam. Presiden Joko Widodo memutuskan untuk mendorong program raksasa pemindahan ibukota, turut menggandeng beberapa kota administrasi penting untuk pindah ke kawasan yang lebih aman dari mara bahaya. Dengan suasana bagaikan kiamat, sekelompok kalangan jetset tetap ada, dan semakin memperlihatkan kesenjangan sosial, bagaikan hidup di dua dunia. 
 
Editor: Tony Thamsir
 

全台敬老金大調查