Warga yang tidak puas membakar penjara, 250 tahanan kabur

 
   Aparat kepolisian menembakkan peluru gas air mata dan meriam air terhadap para pendemo untuk mengusir massa melanjutkan demo dan merusak barang milik umum. Sejak Senin kemarin, beberapa kota di Provinsi Papua Barat telah ada aksi demo turun ke jalan. Aksi pembakaran tidak saja dilakukan pada Kantor DPRD yang berada di kota Manokwari, namun juga penjara terbesar di kota Sorong, yang telah menyebabkan kaburnya 250-an tahanan di dalamnya. Bandara setempat juga tidak luput menjadi sasaran kerusuhan dan akibatnya penerbangan setempat dihentikan.
 
Polisi disinyalir bertindak berlebihan terhadap pelajar Papua
 
   Aksi demonstrasi ini dikarenakan adanya 43 pelajar asal Papua Barat yang tengah melanjutkan pendidikan di Surabaya, pada tanggal 17 Agustus lalu disebut tidak menghormati lambang negara dan hendak merusaknya, sehingga ditangkap oleh pihak kepolisian. Mereka kemudian dibebaskan sehari sesudahnya, namun masih ada sebagian orang yang menebar ujaran kebencian berkenaan masalah SARA dan perlakukan berlebihan terhadap pelajar, sehingga memicu emosi warga Papua dan berakhir dengan aksi demo turun ke jalan.
 
Isu “Papua Barat Merdeka” kembali muncul ke permukaan
 
   Provinsi Papua Barat dan Papua pada awalnya merupakan wilayah kependudukan Belanda, dan baru merdeka pada tahun 1961. Tidak lama kemudian, ikut bergabung masuk menjadi bagian dari Republik Indonesia. Sejak saat itulah, kerap terjadi perseturuan antara pihak pro dan kontra. Satuan kemiliteran Indonesia yang ditempatkan di sana juga kerap dituduh melakukan tindakan pelanggaran hak asasi manusia. Karena ke depannya masih berkemungkinan terjadi aksi demo berskala besar, pihak pemerintah telah menambah jumlah satuan pengaman untuk siap siaga memberikan bantuan pertolongan dan pengamanan.
 
 
Editor: Tony Thamsir